Hello there!
It’s been a looooong time since the last time I wrote this
blog..
kalo dihitung-hitung udah 4 tahun lebih saya gak nulis.. O__O
time flies indeed..
Kalo ditanya lagi, kenapa saya sudah lama tidak menulis blog?
Entahlah, terkadang saya merasa some things were better left
unsaid, tapi terkadang saya juga tergelitik ingin berbagi pengalaman saya,
sekedar hanya untuk berbagi.
Bukan untuk membanggakan diri sendiri tentunya.
Juga ada
banyak sisi dari saya yang suka menunda.
Ngumpulin niat buat nulis itu susaaaaah banget, apalagi buat diet (lho?)
So, I’m trying to NOT procrastinating
anymore by writing this blog.
So after years and years...
Enjoy!
Mungkin sebaiknya saya
menjelaskan sedikit background saya dulu sebelum bercerita.
Dulu saat terakhir
menulis blog saya bahkan masih belum mulai co-ass (co-assistant, jadi ekornya spesialis gitu). Hahahaha.
Saat
ini, saya adalah seorang dokter yang sedang menjalani program internship,
yang merupakan salah satu program wajib dari pemerintah bagi para lulusan
dokter baru untuk memantapkan skill dan pengetahuan yang sudah didapatkan
selama masa co-ass. Ceritanya dimantepin gitu jadi dokter beneran.
Wahana yang
tersedia ada yang lokal dan nasional.
Sedikit curhat, awalnya saya galau antara
memilih Tangerang atau Jayapura.
Sampai akhir juga masih galau sih....
Jadi saya
memutuskan apabila tidak dapat Tangerang maka saya akan ke Jayapura.
And here I am in Jayapura :)
Mungkin terbersit di pikiran
kalian,
“ngapain sih milih jauh banget sampai ke Papua? Kan jauh lebih enak
kalo di kota besar aja.”
"ngapain pilih wahana jauh-jauh.. yang deket-deket aja.. biar kalo mau ngumpul tuh gampang.."
For your
information, Jayapura itu gak terpencil kok. Jayapura adalah kota besar.
Sudah
ada Mall Jayapura, ada XX* buat yang ga mau ketinggalan nonton film paling
hitz, mau H*ppy P*ppy atau In*l V*sta buat karaoke juga ada lho, dan masih
banyak lagi hiburan-hiburan lainnya yang gak bisa saya sebutin satu-satu di
sini, nanti jadinya salah fokus. Hahahaha.
Harga barang di sini
dibandingkan dengan Jakarta kurang lebih sama, hanya lebih mahal sedikit saja,
tidak seperti kata orang, mahal berkali-kali lipat.
Kalau di pegunungan, hal
itu benar adanya.
Harga bensin per liter bisa mencapai 20 ribu rupiah, karena
semua bahan diangkut dengan menggunakan pesawat. Hebatnya, saya tidak mendengar
masyarakat papua pegunungan mengeluhkan akan hal tersebut, bahkan terkesan nrimo.
Padahal, di Jawa itu, kalo ada
kenaikan BBM saja demo dimana-mana lho.
Salut untuk masyarakat Papua!
Kalo untuk soal wahana yang jauh, jauh dari teman, bahkan dari orangtua, saya punya pemikiran sendiri.
Di usia yang masih muda ini (sok muda ceritanya, padahal udah hampir seperempat abad hidupnya),
Why not taking chances?
Why not travelling around the world while we're young, to see the other side of the world?
Dunia itu tidak selebar daon kelor kok. Semakin banyak kamu melihat, semakin banyak kamu belajar. Sekalian jadi pengalaman baru juga hidup di kota orang, hehehe..
Sekarang kembali ke alasan utama
kenapa saya mau menulis kembali.
Hal ini dicetuskan oleh bencana yang menimpa
salah satu maskapai penerbangan di Papua, Trigana Air ATR-42 PK YRN yang jatuh
di distrik Oksop, Oksibil, Pegunungan Bintang, Papua.
Pesawat membawa 54
penumpang, termasuk di dalamnya 5 kru pesawat, serta 49 orang warga sipil.
Kebetulan saya merupakan salah satu
anggota tim dokter umum dari Jayapura yang membantu tim DVI (Disaster Victim
Investigation) dari Jakarta untuk mengidentifikasi korban bencana tersebut di
Jayapura.
Ada beberapa kesulitan dari tim untuk melakukan proses evakuasi,
mulai dari medan yang sulit hingga kendala bahasa.
Lokasi pesawat jatuh harus
ditempuh dengan berjalan kaki selama 2 jam, jadi kalau bolak balik berarti 4
jam, belum lagi cuaca dengan awan tebal yang terus menyelimuti Oksibil dan Jayapura sehingga mempersulit
evakuasi jenazah korban dari Oksibil ke Jayapura. >__<
Saya ingat di hari pertama mendengar kabar bahwa pesawat sudah ditemukan, kami bersama semua tim berharap bisa bekerja hari itu juga, tapi hasilnya nihil, karena jenazah tidak dapat dievakuasi karena terkendala cuaca.
Padahal kami berpacu dengan waktu, semakin lama
waktu evakuasi, proses pembusukan jenazah juga tetap berjalan sehingga dapat
mempersulit proses identifikasi di post-mortem nantinya.
Begitu juga esok harinya sampai akhirnya siang hari, tim SAR gabungan pun memaksakan evakuasi dan beberapa kantung jenazah pun sampai di Jayapura pada sore hari, dan jenazah yang tiba pun langsung mulai diperiksa, yang kemudian dilanjutkan dengan sidang rekonsiliasi. Hari itu kami semua pulang jam setengah 2 subuh.(mamamiaaaa...)
Sebenarnya, proses identifikasi DVI tidak hanya dari mengenali jenazah saja mulai dari bekas luka, tato, aksesoris dan pakaian yang melekat, tapi ada satu kesatuan dimana semua terjadi dengan berkesinambungan.
Tahap-tahap
investigasi DVI adalah
identifikasi-antemortem-postmortem-rekonsiliasi-debriefing.
Seperti kasus kemarin, jenazah-jenazah dibawa
dari RSUD Oksibil ke Jayapura.
Di Jayapura, seluruh keluarga korban akan memberikan keterangan di posko antemortem, dimana data-data
terseut nantinya akan dicocokkan
dengan keterangan yang ditemukan pada saat pemeriksaan postmortem.
Keterangan
yang diberikan misalnya adalah ciri-ciri khusus korban seperti bekas luka,
warna kulit, panjang rambut, tato, mengenakan pakaian dan aksesoris apa pada
saat berangkat.
Di sinilah tantangan kami, karena
kami harus menyamakan persepsi antar keluarga dengan pihak DVI.
Saya akan
ambil beberapa contoh di lapangan, misalnya ketika keluarga menyatakan bahwa
rambut korban pendek, kami harus memastikan kembali seberapa panjang, karena
persepsi pihak keluarga, rambut korban pendek karena baru potong rambut,
padahal sebenarnya masih sebahu... (Lah?)
Kemudian, masalah persepsi warna.
Kebanyakan persepsi wakamsi (red: warga kampung sini, cieh.) tentang warna
banyak tercampur antara warna merah, kuning, orange dan coklat. Sehingga hal
ini menyebabkan ketidakcocokan antara data yang ditemukan pada postmortem
dengan antemortem, yang menyebabkan harus dilakukan penggalian ulang data-data
dari keluarga korban, which is akan makan waktu lagi. Hal-hal kecil seperti
inilah yang membuat proses identifikasi berjalan lebih lama dari seharusnya.
Bahkan
ada beberapa korban yang belum teridentifikasi karena data antemortem yang
kurang lengkap karena pihak keluarga tidak bisa berbahasa indonesia sehingga
harus menunggu hasil DNA yang kurang lebih selesai 1 minggu lagi. kasian kan... >_<
Di kehidupan kita, hal sama juga
berlaku.
Persepsi tiap orang tidak selalu sama.
Menurut saya benar, menurut
kamu belum tentu benar.
Menurut saya salah, menurut kamu belum tentu salah
juga.
Beberapa orang terlalu memaksakan pemikiran mereka sehingga memicu keributan.
Di sinilah fungsi komunikasi, komunikasi dinilai sebagai cara yang paling
efektif untuk menyamakan persepsi.
Dengan komunikasi, diharapkan bisa
meluruskan kesalahpahaman.
Ketika seseorang mengatakan suatu
hal kepada kita, baik yang baik maupun buruk, kita perlu bertanya kembali
kepada diri kita sendiri, apakah kata-kata tersebut benar adanya (bahwa kita
memang seperti yang mereka katakan).
The things being presented to us through other people’s actions or words only show us what we are capable of, not necessarily what we are.
What we choose to be is up to us.
| ki-ka: Mace Echa, Mace Tya, Pace Dhanar, Pace Sam, Pace Yon. Kami semua adalah dokter internship :D |
| Tim DVI Polda Papua, foto2 setelah selesai kegiatan identifikasi :D |
| Jalan-jalan ke Perbatasan RI-PNG. Pantai di belakang adalah Pantai di salah satu kota di Papua Nugini, kota Vanimo, katanya sih terkenal akan pantainya yang bagus.. cuma belom sempet ke sana hiks.... |
| Foto bareng Mobil Build-Up *cieh... |
Sekian dari saya...
sampai jumpa di tulisan selanjutnya!
Semoga gak males lagi yaa nulis blog nya hihihi..
Semoga gak males lagi yaa nulis blog nya hihihi..
Love,
Jonachan<3